04
Jan

Stigma Negatif KKN pada proses seleksi CPNS adalah Masa Lalu

Jakarta – Humas BKN, Gegap gempita seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Tahun Anggaran (TA) 2018 sudah selesai. Masa seleksi yang menghabiskan waktu lebih dari 3 (tiga) bulan ini dilakukan semata-mata untuk mencari CPNS yang unggul untuk masa depan. Setelah pertama kali digunakan secara nasional pada tahun 2013 lalu, metode Computer Assisted Test (CAT) Badan Kepegawaian Negara (BKN) terbukti mampu menghilangkan praktik pembelian pada proses pemilihan CPNS. Salah satu pelamar seleksi CPNS TA 2018 asal Provinsi Lampung, Fitra Alfarisi.

Fitra, sapaan akrabnya, berhasil lolos sebagai CPNS dan akan segera mengabdi pada Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat. Berikut hasil penelusuran wawancara Humas BKN dengan Fitra, Jumat (4/1/2019).

Hai Fitra, sebelumnya BKN disetujui selamat diterima menjadi CPNS, ya. Menyangka tidak bisa menjadi CPNS?

Tidak sama sekali. Karena jujur, saingannya banyak yang usianya lebih mudah. Tapi ternyata faktor Keberuntungan juga ditentukan.

Namun, pernahkah membayangkan akan menjadi CPNS?

Pernah, hanya ibarat punduk merindukan bulan, terasa puas, sampai hari ini saya mengalami dan merasakan stigma negatif korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) pada proses seleksi cintai ini.

Apa yang dimaksud dengan kesulitan selama proses seleksi CPNS kali ini?

Tidak sama sekali, sebaliknya saya ingin memberikan apresiasi setinggi-tinggi kepada Pemerintah, khususnya BKN yang telah menyelesaikan proses seleksi CPNS ini secara terbuka, jujur ​​dan profesional.

Ada pesan untuk teman-teman pelamar yang belum beruntung saat memilih CPNS kali ini?

Terus berusaha dan berdoa. Jangan pernah menyerah. Tetap percaya, Insya Allah dari proses seleksi yang adil dan kompetitif ini, mereka yang terbaik akan dipilih.

Terakhir, sebagai bentuk rasa syukur, apa ada yang ingin disampaikan?

Kembali saya ulang, proses pemilihan yang adil dan kompetitif ini akan menghasilkan ASN yang jujur, berintegritas dan juga profesional. Oleh karena itu, kita sudah sepatutnya optimistis, negeri ini akan maju tatkala negaranya dihasilkan dari proses yang selektif dan jujur. Pada akhirnya, saya setuju terima kasih atas doa semua orang yang mendukung saya, khusus istri, adik dan kedua orang tua saya. ber