28
Des

Kedekatan dengan Orang Tua Adalah Salah Satu Password Kesuksesan

Pengumuman CPNS beruntun membanjiri sosial media. Tidak ada kementerian yang aku lirik dan kutunggu-tunggu kecuali Kemenristek Dikti, Kemenkes dan Kemenag dengan formasi dosen. Hingga akhirnya Kemenristek Dikti dan Kemenkes membuka pendaftaran.

Saat itu aku sudah mendapatkan gelar S-2 Kesehatan Masyarakat dengan predikat Cumlaude di suatu PTN yang terakreditasi A, namun sayangnya pada prodi yang baru berdiri (terakreditasi minimal). Lemaslah kakiku, aku tidak bisa mendaftar. Jangankan untuk mendaftar jalur Cumlaude, untuk formasi umum saja diharuskan akreditasi prodi minimal B. Aku ingin menangis tidak bisa, tertawa apalagi. Ah sudahlah!

Umi, Manager Luar Biasa

Tetapi aku berusaha membesarkan hati, telah memilih ridha Allah melalui orang tua. Umi (ibuku) memintaku pulang ke Palembang untuk membantunya menguliahkan 2 adik bungsuku. Aku ikhlas, walau sempat disayangkan oleh beberapa orang ketika memutuskan melanjutkan S-2 didaerah, karena S-1 dulu, aku dikuliahkan di salah satu PTN terbaik di Jakarta oleh gubernur sebagai santri berprestasi.

Melihatku tidak bisa mendaftar, umi menyarankan mendaftar S-1 saja. Tetapi aku menolak, sebab merasa passion-ku adalah dosen. Sambil mengelus bahuku “Ta, maafkan atas khilaf umi. Tetapi saat itu umi benar-benar butuh Zata disamping umi. Berdo’alah ya nak InsyaAllah, Allah mengangkat derajatmu.” Kalimat ini membuatku tidak bisa meneguk, dadaku sesak. Akupun bersungut berusaha menyeka agar bulir air mata tidak jatuh.

Pengumuman dosen Kemenag dibuka. Ada sebuah titik harapan. Kali ini syarat untuk PTN minimal akreditasi prodinya adalah terakreditasi. Walaupun formasi jurusanku hanya untuk 1 orang, itupun hanya di UIN Sumut, dan beberapa orang sedikit pesimis pada formasi yang diperebutkan se-Indonesia. Terlebih lagi desas desus bahwa dosen tetap Non-PNS yang sudah lama di PTN itu pasti yang diutamakan. Tetap saja, tanpa ragu aku memilihnya.

Tiba pengumuman hasil seleksi administrasi. Aku memperhatikan rata-rata 1 formasi diperebutkan oleh 3 sampai 20 orang. Tetapi, Astaghfirullah sainganku 35 orang. Maka harus mengalahkan 32 orang di SKD (Seleksi Kompetensi Dasar, -red) jika ingin lanjut ke tahap SKB (Seleksi Kompetensi Bidang, -red). Aku mulai belajar bukan sekedar 1-2 buku, tetapi sampai 7 buku cetak maupun download di internet. Tak ketinggalan buku-buku ensiklopedia, dan buku-buku sekolahan SD-SMA. Aku rajin evaluasi skor dengan latihan CAT-BKN (Computer Assissted Test Badan Kepegawaian Negara, -red) di website. Awalnya skorku tidak lulus passing grade. Aku jatuh di TIU (Tes Intelegensi Umum, -red). Solusinya rajin diskusi dengan orang tua dan senior mengenai istilah-istilah baru terutama perbendaharaan.

Tiba 2 minggu kemudian, Ujian SKD digelar. Aku berangkat ke Medan bersama umi. Tanpa ada keluarga dan kerabat, ini kali pertama kami menginjakkan Medan. Umi sebagai manager, luar biasa. Tidak akan habis satu buku menceritakan pengorbanan umi men-support secara fisik dan psikis.

Saat SKD, tepat 2 detik sebelum waktu habis aku meng-klik tombol selesai.

Lalu skorpun keluar, sambil gemetar aku mencatatnya.

Di luar ruangan, umi segera menyambutku.

Bagaimana nak, lulus?” Tanya umi

Umi ayok kita liat saja di layar depan.” jawabku

Satu persatu skor peserta keluar berdasarkan rangking, namaku belum ada. Tak lama semua skor peserta sudah masuk, dan layar kembali ke urutan atas.

“Subhanallah, Ya Allah nak, Juara 1”. Dengan berderai air mata, umi langsung mencium keningku. Aku terpaku tak percaya, “ini nyata juara pertama di sesiku?”

3 minggu kemudian, pengumuman panggilan tes SKB. Syukurnya aku rangking 2 di formasi.

Akan tetapi, aku kembali diuji. Aku terpilih sebagai peneliti muda yang mendapatkan beasiswa ke Thailand untuk mempresentasikan penelitianku, dan Jadwal SKB CPNS bertepatan dengan jadwal keberangkatanku ke Thailand. Ya Allah, padahal sudah jauh-jauh hari tiket pulang-pergi dibeli. Dengan lapang dada, tiket PP tersebut hangus. Terpaksa aku membeli ulang tiket setelah ujian SKB.

Berdiskusi dengan Abi

1 hari sebelum keberangkatanku ke Medan, pukul 22.00 WIB tak biasanya aku tergerak untuk menemui abi (ayahku). Kami berdiskusi banyak mengenai pilar negara, keberagaman, ideologi, tauhid, muamalah, syariah, hingga larut malam. Aku perbanyak membaca buku mengenai wawasan kenegaraan dan keagamaan.

Hingga ujian SKB tiba. Aku bertemu dengan 2 pesaingku. Kami saling menanyakan profil satu sama lain. Mereka berasal dari Sumatera Utara, hanya saya berasal dari Palembang. Mereka lulusan dari PTN terbaik, berpengalaman mengajar, 2 tahun lebih senior. Melihat profil yang begitu sengit, aku sedikit ketir dan berdo’a “Ya Allah, rezekiMu bukan hanya untuk orang lulusan PTN terbaik. Hamba pasrahkan pada takdirmu.”

Entah mengapa, semua materi yang diwawancara oleh penguji adalah bahasan yang sudah diulas habis dengan abi. Dengan lancar, aku menjawab pertanyaan demi pertanyaan di sesi wawancara. Microteaching-pun sangat percaya diri, semua hal yang ditanyakan dapat ku jawab dengan baik dan spontan.

Segera setelah ujian, aku menelpon Abi. Salah satu kalimat beliau yang terngiang “Nak, siapa yang menggerakkan kita berdiskusi tengah malam saat itu? Allah azza wajalla Nak, kedekatan dengan orang tua adalah salah satu password kesuksesan.”ada kesejukkan di dada setelahnya.

Bismillahirahmanirrahim

Tibalah pengumuman kelulusan akhir CPNS.

Dengan tangan gemetar, klik!

Subhanallah Walhamdulillah Wala ilahaillah” Aku adalah angka 1 itu, dengan keterangan Lulus.

Tersungkur Sujud syukur sambil berderai air mata.

 

Tiada disangka, Umi dan abi tanpa menapaki jalan Ridha mu, Mungkin anandamu tidak mencapai karunia Keridhaan Allah sebesar ini. Maha Suci Allah atas skenario ujian untuk mengangkat derajat hambaNya. Jangan ragu untuk berbakti.

Zata dengan Abi dan Uminya.

ZATA ISMAH

Magister (S-2) Kesehatan Masyarakat. Epidemiologi dan Biostatistik. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya