Indonesian (ID)English (United Kingdom)

info mobile

Agenda Kegiatan

April 2014
S M T W T F S
30 31 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 1 2 3
NAIK PANGKAT 2 TAHUN BISA, NAMUN TIDAK SEMUA

Rapat kerja kepegawaian tentang jabatan fungsional rumpun kesehatan se-wilayah kerja Kantor Regional VIII BKN Banjarmasin dilaksanakan pada tanggal 6-7 November 2011 di Aula Junjung Buih, Banjarbaru, dihadiri 88 peserta yang merupakan pegawai Dinas Kesehatan dan tim penilai angka kredit.

 

Ketua panitia, Drs. Supardi, M.AP memberikan laporan bahwa raker ini bertujuan untuk menyamakan persepsi khususnya mengenai penetapan kenaikan pangkat dan penghitungan angka kredit. Raker ini diisi oleh Pejabat bidang mutasi, yaitu Kepala Bidang Kukuh Heru Yanto, SH, MH., Kepala Seksi Mutasi II Noor Afiat, SH., Kepala Seksi Mutasi III Andi Hikmal, S.Sos.

 

 

Perlu diketahui rumpun kesehatan memiliki 27 jabatan fungsional antara lain nutrisionis, fisioterapis, dokter, perawat, bidan, serta administrasi kesehatan, dan lain-lain. Dalam menetapkan kenaikan pangkat (KP) setiap PNS tentu BKN harus teliti dan berhati-hati jangan sampai PNS tersebut menggunakan PAK palsu saat mengajukan usul KP.

 

UU No 43 tahun 1999 tentang perubahan atas UU No 8 tahun 1974 pasal 17 bahwa setiap PNS diangkat dalam jabatan dan pangkat tertentu sehingga tidak ada PNS yang tidak memiliki jabatan, saat melamar pun sudah ditentukan. Seorang pegawai baru bisa diangkat dalam jabatan ketika sudah menjadi PNS yang sekurang-kurangnya telah melewati masa percobaan sebagai CPNS selama 1 tahun, dan maksimal 2 tahun.

Memang jabatan fungsional tertentu bisa mengusulkan kenaikan pangkat paling cepat 2 tahun karena jika pegawai tersebut rajin bekerja maka otomatis angka kreditnya pun akan terkumpul banyak. Namun kenaikan pangkat setiap 2 tahun sekali itu tidak mutlak, artinya tidak semua jabatan fungsional bisa naik pangkat secepat itu. Semua tergantung kinerja mereka dan hati-hati, tidak boleh membuat PAK palsu.

 

Jabatan fungsional harus mengubah mindset untuk rajin mencatat setiap kegiatan sebagai landasan untuk menyusun angka kredit, sehingga laporan itu bisa dijadikan bukti kegiatan. Kakanreg juga meminta kepada para peserta yang menjadi tim penilai agar obyektif dalam menentukan setiap nilai angka kredit. (diah)