19
Apr

Menghayati Arti Paskah, Korpri BKN Selenggarakan Seminar Etos Kerja

IMGL9849

Warga Kristiani BKN yang merayaan Paskah yang jatuh pada 13 April 2016, di aula Kantor Pusat BKN Jakarta

Jakarta-Humas BKN, Perayaan Paskah merupakan dasar dan pusat iman umat Kristiani. Terkait itu, untuk makin menguatkan keimanan, Korps Pegawai Negeri (Korpri) unit Badan Kepegawaian Negara (BKN) menggelar agenda rutin tahunan perayaan Paskah bagi warga Kristiani. Kali ini perayaan Paskah yang dilaksanakan pada 13 April 2016, di aula Kantor Pusat BKN Jakarta dan diawali dengan seminar tentang Etos Kerja dengan tema “Revolusi Mental dan Kinerja Unggul”.

Persekutuan Rohani Warga Kristiani BKN berharap bahwa seminar ini dapat membawa perubahan dalam pola pikir, pola rasa dan pola tindak pegawai BKN khususnya warga Kristiani agar dapat menghasilkan kinerja yang unggul dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Kepala BKN, Bima Haria Wibisana ketika membuka Seminar Etos Kerja tersebut menyampaikan bahwa banyak yang harus kita kerjakan di BKN selain memberikan pelayanan publik. “Kita juga dituntut menunjukkan jati diri sebagai Aparatur Sipil Negara yang memiliki kompetensi dan kemampuan secara profesional sebagai pembuktian bahwa kita memiliki integritas yang terjaga”.

Bima mengungkapkan Paskah bisa berarti freedom dan resurrection. Freedom dan resurrection itu bisa dimaknai apabila kita memang sudah dapat mengikrarkan diri merdeka dari hal-hal yang membelenggu pikiran dan spiritualitas. Bagaimana kita kemudian merdeka dan bangkit dari kebodohan, ketidakmampuan untuk melakukan hal-hal yang lebih baik, untuk memiliki kompetensi, profesionalisme dan kemerdekaan diri yang semua itu hanya diniatkan untuk mendapatkan berkat Tuhan Yang Maha Esa”.

Bima menghimbau kaitan Perayaan Paskah dengan Revolusi Mental harus dimaknai sesuai dengan visi BKN yakni profesional dan bermartabat. “Indikator-indikator atau nilai revolusi mental yang serupa dengan integritas, profesional, etos kerja dan gotong royong itu adalah nilai-nilai yang bisa kita hasilkan atau keluarkan dari diri kita kalau diri kita bisa memahami dan menerapkan apa yang menjadi falsafah-falsafah dari kehidupan”, pungkasnya.”wik/dep