11
Mei

Program Pembinaan Kesadaran Bela Negara Melibatkan Pembentukan Moral Bangsa

IMG-20160511-WA0006

Para peserta kegiatan Forum Tematik Bakohumas yang berlangsung Rabu, (11/5) di Kemhan RI.

Jakarta-Humas BKN, Sejak digulirkannya program pembinaan kesadaran bela negara (PKBN) oleh Kementerian Pertahanan RI (Kemhan), berbagai prespektif pro dan kontra dari masyarakat bermunculan. Paradigma publik tentang konsep bela negara seolah berorientasi pada suatu kegiatan militer yang melibatkan perang angkat senjata.

Direktur Bela Negara Ditjen Pothan Kemhan Laksamana Pertama TNI Muhammad Faisal menjelaskan program pembinaan bela negara melibatkan peran masyarakat sipil untuk menangkal ancaman nyata yang sedang dihadapi Indonesia terkait semakin maraknya peredaran narkoba, berbagai kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak, pergaulan bebas remaja, hingga pengaruh buruk dari perkembangan teknologi dan pergeseran budaya yang semakin mengancam masa depan generasi bangsa.

Dasar PKBN mengacu pada UUD 45 pasal 27 (3) dan pasal 30 (1), UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, dan Perpres Nomor 97 Tahun 2015 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara.

Tekait strategi pelaksanaan PKBN, Muhammad Faisal juga menyampaikan bahwa terdapat dua bentuk ancaman yang menjadi fokus keberlangsungan pembinaan, yakni mencakup ancaman militer (yang melibatkan angkatan bersenjata dan ancaman nirmiliter (yang melibatkan seluruh komponen bangsa). Pemerintah melalui Kemhan RI telah menyusun kerangka PKBN yang diawali dengan pembentukan kader bela negara, pemeliharaan kader, pemberdayaan, hingga penataan sarana prasarana. Ke depan Kemhan juga mengusung konsep pembentukan 100 juta kader bela negara.

“Untuk itu pembinaan kesadaran bela negara yang ingin diwujudkan pemerintah tidak semata terkait tindakan militer, ancaman nyata yang sedang dihadapi semakin mengkhawatirkan, bela  negara diharapkan menjadi instrumen untuk membentuk karakter moral anak bangsa, jika tidak diatasi secara kompherensif, tentu ini merupakan ancaman nyata negara,” tegasnya dalam kegiatan Forum Tematik  Bakohumas yang berlangsung Rabu, (11/5) di Kemhan RI.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa saat ini Kemham RI tengah menyusun kurikulum diklat bela negara sebagai upaya pemberian pengetahuan dan pemahaman bela negara, dan untuk sistem serta strategi pertahanan negara akan didesain dan terus disempurnakan.  Untuk itu diharapkan melalui Forum Tematik Bakohumas, segenap komponen Humas Pemerintah ikut terlibat aktif dalam membentuk informasi yang tepat untuk meminalisir kesenjangan antara perspektif publik dan fakta di lapangan. (des)