18
Des

Selama 2010-2015 Tercatat 23 orang PNS dan Anggota TNI/Polri terlibat dalam Kasus Terorisme

Jakarta-Humas BKN, Sejak tahun 2010 hingga tahun 2015, berdasarkan data Pusat Studi Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, diperkirakan ada 23 orang PNS dan anggota TNI/Polri yang terlibat dalam kasus terorisme atau bergabung dengan kelompok teror. Informasi ini disampaikan oleh Peneliti pada Kajian Terosisme UI Sholahudin Hartman pada acara Rapat Koordinasi Antar Kementerian/Lembaga dengan tema “Deteksi Dini Masuknya Paham Radikal Terorisme dan ISIS di Lingkungan Aparatur Pemerinatah”, yang diselenggarakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Hotel Golden Boutique, Selasa (15/12/2015). Sholahudin menambahkan bahwa ada dua metode proses penyebaran paham radikal, yang pertama adalah melalui pengajian yang mengedepankan aksi teror untuk mencapai tujuan mereka serta melalui pendekatan kekeluargaan. Kasus pertama dapat dilihat pada kejadian teror bom yang terjadi beberapa kali, sedangkan yang berikutnya adalah dengan adanyan perpindahan satu keluarga untuk ‘berhijrah’ ke syiria seiring keyakinan mereka akan keharusan berhijrah setelah tegak khilafah (ISIS-red).

Sementara itu, ust. Abdurahman Ayub yang merupakan mantan pengikut kelompok teroris menjelaskan bahwa perlu mewaspadai atas tersebarnya pemahaman yang salah atas doktrin keagamaan yang menggunakan cara-cara radikal. Terkait penampilan fisik yang sering dipahami sebagai ciri teroris, Abdurahman menjelaskan bahwa hal itu tidak bisa dijadikan acuan. “Bukan karena dia berjenggot, bukan karena berjilbab, bukan karena bersorban, bukan karena tasbih, kemudian dicap teroris, tetapi teroris itu letaknya di pikiran,” tegas Abdurahman. Abdurahman menegaskan bahwa ciri utama adanya paham radikal yang membawa nama Islam adalah dengan doktrin dan semangat utama yang ditanamkan tentang baiat, hijrah, jihad, dan daulah/khilafah.

Banyaknya kasus terorisme yang terjadi di Indonesia rata-rata dilakukan oleh usia muda (18-30 tahun), oleh karenanya perlu kewaspadaan dan kepedulian kita untuk meminimalisir tersebarnya paham terorisme. Perubahan sikap seperti menarik diri dari lingkungan serta mudahnya mengkafirkan orang yang tidak mengikuti kelompoknya menjadi indikasi akan pemahaman yang salah yang mengarah pada pemahaman radikal yang membawa ke arah terorisme. Mari bersama cegah diri kita, keluarga dan lingkungan dari paham terorisme khususnya ISIS. Tidak ada ciri fisik khusus atas teroris, karena teroris terletak pada pikiran dan paham destruktif yang diyakini. fuad