30
Agst

Vaksin Wajib bukan Vaksin Palsu

14088514_839573916174239_3816588956170891065_n

Suasana Forum Tematik Bakohumas terkait “Penanganan Kejahatan dan Peredaran Vaksin Palsu dan Dampak yang Ditimbulkan Bagi Anak” (Foto:Astri)

“Sejak kasus vaksin palsu merebak di media Juni 2016 lalu, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah menetapkan 25 tersangka, dari berbagai level seperti produsen, distributor, bidan, pengumpul botol bekas vaksin, pencetak label vaksin dan juga dokter. Asal muasal terbongkarnya kasus ini berawal dari penemuan vaksin palsu disebuah toko obat di bilangan Jatinegara. Dari sanalah kepolisian menyidik secara intens mulai dari pemasok, sampai berhulu kepada produsen”, demikian disampaikan Brigjen Polisi Agung Setya, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri dalam diskusi panel Forum Tematik Bakohumas, Selasa (30/8) di Wisma Bhayangkari Polri.

Kenyataan pahit yang harus diterima masyarakat tidak hanya sampai disitu. Kementerian Kesehatan dengan lugas mengumumkan 14 Rumah Sakit (RS) yang disinyalir memaparkan vaksin palsu bagi para pasien anak mereka. Kenyataan ini tentu saja harus dibarengi dengan upaya memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja pemerintah. “Ikatan Dokter Anak Indonesia melalui Kemenkes merekomendasikan dilakukannya vaksin ulang bagi para pasien yang terindikasi vaksin palsu. Masyarakat yang merasa telah dirugikan dapat melapor dan mendaftar melalui satgas vaksin”, demikian penjelasan dr. Dyah Silviati terkait penanganan bagi anak yang terpajan vaksin palsu.

Menjawab salah satu pertanyaan hadirin terkait cara membedakan  antara vaksin yang asli dengan yang palsu, dengan blak-blakan diunggapkan Dyah bahwa untuk masyarakat awam hal tersebut sangat sulit untuk dibedakan. “Cara membedakannya harus melalui penelitian laboratorium”, pungkas Dyah.Satu hal yang menjadi “penghibur” adalah bahwa vaksin  yang dipalsukan adalah vaksin pilihan atau vaksin kombinasi, yang notabene merupakan vaksin impor. “Tidak ada produsen yang tertarik untuk memalsukan vaksin murah seperti yang diproduksi biofarma,” kelakar Dyah. Adapun vaksin yang bersifat wajib bagi anak tidak ditemukan indikasi pemalsuan. Semoga dengan terbongkarnya kasus ini akan menciptakan sinergi yang lebih baik antara para pemangku kebijakan di bidang kesehatan, dan semakin meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai macam jenis vaksin atau obat dan makanan yang beredar luas. din