01
Sep

Sihir ‘Buya’ Ardisal, Pemegang Sapu yang Mabuk Pendidikan

“Buya, campakkan sapu itu lagi. Mulai hari ini juga kau pindah ke kantor!” hardik Kepala Dinas Kota Padang kepada seorang PNS yang sedang menyapu di halaman Kantor Walikota Padang waktu itu. Usut punya usut rupanya Sang Kepala Dinas habis terkena ‘sentil’ Sang Walikota karena mengetahui seorang pegawainya, ‘Buya’ Ardisal yang telah berpendidikan S2 tetapi masih bekerja sebagai Petugas Kebersihan. “Kejadian itu terjadi sekitar pertengahan Maret 2011 lalu,” kenang ‘Buya’ Ardisal.

Adalah Ardisal, seorang PNS yang juga berprofesi dan lebih dikenal sebagai ‘Buya’ (sebutan untuk Mubaligh) di lingkungan Kota Padang dan beberapa antero Sumatera Barat. Ardisal yang lebih akrab disapa dengan Buya merupakan PNS dari tenaga honorer database 2005. Buya mengawali karirnya sebagai seorang Tukang Sapu pada Seksi Penanggulangan Sampah dengan upah Rp. 2.000,- perhari. Buya resmi sebagai CPNS jabatan Pelaksana pada Dinas kebersihan dan Pertamanan Kota Padang tahun 2007.

Sebenarnya apa yang menarik dari Buya Ardisal, sebagi sosok yang mampu menyihir dan menghembuskan mantera inspirasi bukan hanya bagi rekan sejawat, pimpinannya hingga mungkin bagi PNS Indonesia?

Buya dilahirkan pada 5 Juni 1968 tanpa ada bantuan seorang dukunpun apalagi dokter di desa Kapencong, Kenegarian Koto Barapak, Bayan-Pesisir Selatan. Buya terlahir dari pasangan keluarga petani miskin yang buta huruf. Dilandasi kemiskinan, penderitaan dan sulitnya kehidupan, Buya berusaha menantang dan menaklukan zaman. Pesan orang tuanyalah yang selalu Ia pegang hingga saat ini. “Wahai anakku, janganlah kamu hidup seperti bapakmu ini. Tidak punya pekerjaan tetap. Susah untuk mencari makan sehari-hari. Oleh karena itu, rajinlah kamu bersekolah dan jangan cepat berpacaran. Mudah-mudahan kelak kamu akan menjadi anak yang berhasil dan sukses,” kenang Buya berkaca-kaca.

Buya senantiasa memegang teguh nasihat orang tuanya. Dia selalu mabuk dan haus akan pendidikan. Motivasinya itu juga didasari rasa cemburu dan iri hati, iri tentang kebaikan. “Teman lain bisa masa saya nggak,” tutur Buya. Buya mengisahkan bahwa saat diangkat sebagai honorer, waktu itu dirinya berpendidikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) tahun 1989. Kemudian disela-sela kesibukannya sebagai Tukang Sapu, Ia melanjutkan dan menyelesaikan jenjang pendidikan kesarjanaan (S1) di salah satu Institut Agama Islam Negeri Kota Padang pada 1996. “Sambil menyapu sambil kuliah,” cerita Buya.

DSC_0238a

Buya Ardisal yang haus pendidikan sejak menjadi Tukang Sapu hingga menjadi Kepala Seksi Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perijinan Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakan, Kecamatan Padang Timur-Kota Padang.

Lalu pada saat pengangkatan pertama sebagai CPNS, Buya tidak menuntut ijazah S1-nya digunakan sebagai dasar pengangkatan pertama. Buya menuturkan bahwa dengan diangkat sebagai CPNS saja, dirinya sudah sangat bersyukur. Menjadi CPNS saja sudah merupakan kebahagiaan Buya atas jawaban doa dan impiannya. “Jangankan Golongan III/a, diangkat CPNS Golongan I/a saja saya sangat bersyukur. Bahkan sekiranya ditempatkan di hutan sekalipun, saya rela,” ujar Buya. Alkisah, BKD memintanya untuk mengumpulkan semua copy dokumen ijazah yang dimiliki Buya. “Semua saja lengkapi jenjang ijazahmu, Buya. Nasib baik atau tidak itu sudah digariskan Allah SWT,” pinta petugas BKD. “Dan bersyukur, Buya ditetapkan diangkat dengan Golongan III/a,” lanjutnya.

Setelah diangkat sebagai CPNS dan tetap ditempatkan sebagai Tukang Sapu, api semangatnya tidaklah surut. Melalui proses ijin belajar, Buya melanjutkan hingga menamatkan pendidikan jenjang Strata 2 (S2) pada Program Magister Pendidikan Islam di Institut yang sama. Gelar tersebut telah disematkan dalam rangka pembinaan karirnya sebagai PNS. Namun demikian Buya Ardisal harus rela melepas sapunya untuk menjadi Staf Sub Bagian Umum pada Bagian Sekretariat Kantor Walikota Padang. Saat ini Buya Ardisal menjabat sebagai Kepala Seksi Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perijinan Kelurahan Kubu Dalam Parak Karakan, Kecamatan Padang Timur-Kota Padang.

Termotivasi untuk terus menggali ilmu yang lebih dalam, Buya melanjutkan pendidikan dengan mengambil Program Doktoral pada kampus yang sama. “Ilmu S2 berasa masih dangkal,” ungkap Buya.

DSC_0157

Buya Ardisal menunjukan celengan bambunya.

Celengan Bambu

Sebagian orang pastilah mempertanyakan Buya tentang biaya dan waktu pendidikan. Berapa sih upah honorer, berapa sih gaji PNS? Buya menuturkan bahwa untuk meraih impian, seseorang harus bekerja keras dan rajin menabung.

Buya mengisahkan bahwa biaya pendidikannya ia tangung sendiri dari hasil keringat jerih payahnya. Selain menjadi tukang sapu, Buya juga bekerja sebagai guru agama pada sebuah Madrasah dan juga menjadi seorang Penceramah. “Harus bisa membagi waktu. Harus bekerja keras,” tegas Buya.

Buya menceritakan bahwa utnuk persediaan biaya pendidikan, Ia harus menyisihkan hasil kerjanya dengan menabung. Yang lebih menarik adalah bahwa buya menabung secara tradisional, dengan celengan bambu. Celengan itu, menurut Buya akan dibelah jika sudah penuh dan khusus jika membutuhkan biaya pendidikan saja. “Isilah celengan bukan dengan koin, tapi pecahan puluhan atau ratusan ribu,” kata Buya. Atau menurut Buya sebenarnya orang lain dapat menggunakan Surat Keterangan Mahasiswa Doktoral untuk mencari bantuan/beasiswa pendidikan. “Tapi hal itu belum pernah saya lakukan,” ujarnya.

Jangan Sombong

Kini setelah impian dan ucapan orang tuanya terwujud, Buya selalu bersyukur, rendah hati, tidak sombong dan qona’ah (menerima apa adanya-red) dalam menjalani kehidupan. Sebagai seorang PNS hendaklah selalu bersabar, disiplin dan ikhlas dalam bekerja. “Selalu meningkatkan kualitas pelayanan. Akan mendapat pahala dari Allah SWT, lancar dalam urusan dan naik pangkat, disayang teman dan atasan hingga dipromosikan,” ujar Buya.

Untuk generasi penerus, Buya berpesan untuk giat menuntut ilmu sampai jenjang yang paling tinggi. “Lakukanlah dengan penuh semangat, kerja keras dan kesabaran,” terang Buya. Menurut Buya saat ini sudah ada beberapa generasi penerus di Kota Padang yang terinspirasi jejak-jejak pahit yang pernah Ia jalani. “Sudah banyak tukang sapu yang mengambil kuliah. Dan semoga ke depan akan lebih banyak lagi,” pungkas Buya. Sabar itu pahit, tetapi buahnya manis. Subali